Tuesday, January 20, 2015

Sakit Hati Cinta Ditolak


Selain pernah sakit karena jatuh dari pohon kenari, gue juga pernah merasakan sakit karena jatuh cinta. Gue ditolak cewek itulah intinya. Sebut saja namanya Bunga. Itu hanya nama samaran, kayak korban-korban perkosaan di koran. Sebab kalo gue tulis nama aslinya Kinyandri Agnesia gitu, gue takut kena tuntut.



Dia baru sebulan pulang kampung sehabis lulus kedokteran di Jogjakarta. Dulu kami sekolah di SMK yang sama. Dia cerdas kayak gue. Kami sering mengharumkan nama sekolah. Dia sering juara cerdas cermat, lomba pidato, bulu tangkis, dan pernah menjadi paskibra tingkat propinsi. Sementara gue, mengharumkan nama sekolah dengan nyemprotin parfum ke papan nama sekolah. Setelah tamat SMK, Bunga melanjutkan pendidikan ke Indonesia jurusan kedokteran, sementara gue tetep di Purbalingga kuliah ambil jurusan sastra mesin.

Bunga emang cantik, tapi ga malu-maluin buat digandeng ke mall apalagi ke kondangan sunatan. Kulitnya putih, rambutnya hitam, lubang hidungnya dua. Body-nya juga bagus seperti gitar-gitar dari negara-nya David DeGea. Udah gitu punya bokap yang tajirnya masuk daftar 547 orang terkaya sekampung. Sawahnya luas sapinya banyak mobilnya delapan istrinya dua. Bayangin deh!

Begitu Bunga balik dari Jogja, cowok-cowok kampung langsung sibuk merenovasi diri buat modal mendekati Bunga. Pun gue, walo dengan modal yang ga seberapa pantas untuk dibanggakan, tetap ga mau kalah. Maju terus pantang malu. Jaman penjajahan aja, para pahlawan cuma bermodal bambu yang diruncingin, ga gentar melawan kompeni yang pake bedil.

Singkat jones, setelah pedekate alakadarnya, pada suatu kesempatan gue nembak Bunga. Simpel aja. Ga pake pistol, ga pake cincin, ga pake seiket kembang, ga didahului pembacaan puisi, ga disiarin langsung di tipi. Lokasinya pun amat sangat simpel: di sebelah kandang sapi! Bukan di restoran mewah bercahayakan lilin kecil apalagi di kapal pesiar.

"Bunga, IPK kamu berapa deh. Kenapa pinter banget bikin aku kangen?" gue memulai pembukaan acara katakan cinta.

Bunga cuma tersenyum. Sambil mengelap keringat di wajah dan lehernya pake tisu.

"Gemesin leher jenjang kamu, Bunga. Mau ga kusembelih?"

"Ihh apaan sih! Ya enggaklah!"

"Disembelih ga mau. Mm... Tapi kalo jadi pacarku mau kan?" Peluru udah ditembakan.

Target tampak melongo dongo. Dalam hati gue berdoa semoga peluru cinta gue tadi ga salah sasaran mengenai sapi.

"Aku cinta sama kamu, Bung..

Peluru kedua. Untuk sesaat Bunga tampak terhenyak. Mulutnya bergerak-gerak seperti mau ngomong sesuatu tapi sulit untuk diungkapkan. Mungkin dia syok, seumur hidupnya ga pernah menyangka bakal ditembak oleh lelaki terganteng di seantero desa ini.

"Ka... Kamu serius?" Tanya Bunga dengan suara terbatu-bata.

"Serius..."

"Serius banget apa serius aja?"

"Serius banget!"

"Serius banget nget nget nget?!"

"Iya Bunga. Banget parah sumpah!"

"Baiklah. Kalo emang bener-bener serius. Emm... kita ke kamar yuk? Kamar aku."

"Hah! Ngapain?!"

"Aku mau tunjukin sesuatu, ihihihi...

Tanpa permisi Bunga langsung meraih tangan gue dengan mesra. Owh... Indahnya dunia. Rumput-rumput seakan menjadi bunga. Kandang sapi bagaikan istana. Bunga menarik tangan gue, dibawanya pergi menjauh dari istana eh kandang sapi, menuju rumahnya.

"Kita langsung ke atas ya? Kamarku di lantai 3," kata Bunga tersenyum sedikit genit.

"Beneran ke kamar nih?" tanya gue deg-degan. Gue merasa sebentar lagi keperjakaan gue bakal hilang.

Bunga tersenyum dan terus menggandeng gue naik. Sampai di lantai 3, Bunga membukakan pintu kamarnya untuk gue. Kreekk..

"Silahkan masuk... " kata Bunga dengan manisnya.

Suer! Gue masih belum sepenuhnya percaya bisa berduaan sama Bunga, di kamarnya yang wangi, dengan ranjang yang bagus bersih dan pasti empuk itu. Gue cubit-cubitin pipinya Bunga. Dia merasakan kesakitan. Berarti ini bukan mimpi?

"Emm... Udah di kamar nih, trus..." kata gue malu-malu kucing garong, makin deg-degan, dalam benak udah tergambar adegan aril luna maya.

"Zal, coba kamu ke lemari itu deh bentar..."

"Emang ada apa?" tanya gue sambil melangkah gagah menuju lemari.

"Jadi gini, di lemari itu kan ada cerminnya ye kan? Nah, seharusnya sebelum nembak gue, lo tuh bercermin dulu!! Lo tuh siapa?! Ngaca woey! NGACA!!" *banting beha*

3 comments

Lol rasain lu wkwkwk

Sukur min wkwk


EmoticonEmoticon